MYP 4–5 Service as Action:
Belajar dan Berkarya Bersama di Yayasan Karya Murni
oleh Ms. Imelda Hutabarat, Service as Action Coordinator
Sebagai bagian dari pengalaman Service as Action, siswa MYP 4–5 mengunjungi Pendidikan SLB B Karya Murni, sebuah sekolah yang mendukung siswa dengan hambatan pendengaran. Kunjungan ini menjadi pengalaman yang berkesan, memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar di luar kelas sekaligus mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang empati, inklusi, dan rasa hormat terhadap sesama.
Dalam kunjungan tersebut, tim Karya Murni memberikan presentasi mengenai bagaimana sekolah mendukung para siswanya, kehidupan sehari-hari, serta pengalaman belajar mereka. Presentasi ini menarik dan bermakna bagi siswa MYP 4–5 karena memperluas pemahaman mereka tentang berbagai cara manusia berkomunikasi, belajar, dan mengalami dunia di sekitar mereka.
Salah satu momen yang berkesan adalah ketika siswa MYP 4–5 dengan antusias memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat dasar yang telah mereka pelajari sebelum kunjungan. Siswa Karya Murni juga menampilkan dua tarian yang luar biasa. Guru mereka menjelaskan bahwa para siswa mempelajari tarian tersebut dengan merespons getaran dan irama, sehingga penampilan tersebut terasa semakin istimewa.
Kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas yang menyenangkan dan bermakna, termasuk melukis di atas kanvas dan permainan Lip-Reading Whisper Game. Siswa dari kedua sekolah berkesempatan untuk berinteraksi, bersenang-senang, dan belajar satu sama lain. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dasar, gerakan, dan ekspresi, dengan dukungan guru sebagai penerjemah ketika diperlukan.
Sepanjang kunjungan, siswa MYP 4–5 menunjukkan sikap penuh hormat, kepedulian, dan keterbukaan. Mereka menikmati setiap momen dan berpartisipasi secara aktif dalam berbagai kegiatan. Tawa, interaksi, dan kolaborasi yang terjalin mengingatkan kita bahwa inklusi dimulai dari kemauan untuk saling memahami dan berinteraksi. Pengalaman ini juga selaras dengan Sustainable Development Goal 10: Reduced Inequalities (Berkurangnya Kesenjangan), dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami bahwa setiap orang dapat berpartisipasi dan berkontribusi dengan caranya masing-masing.
Setelah kunjungan, siswa MYP 4–5 menuliskan refleksi mengenai rasa syukur mereka atas kesempatan untuk bertemu dan belajar bersama siswa Karya Murni. Mereka juga merefleksikan bagaimana pengalaman ini membantu mengembangkan keterampilan ATL, khususnya keterampilan komunikasi, kolaborasi, dan sosial.
Secara keseluruhan, kunjungan ke Karya Murni menjadi pengalaman yang sangat bermakna. Siswa MYP 4–5 membawa pulang kenangan indah, perspektif baru, serta apresiasi yang lebih besar terhadap pentingnya inklusi dan rasa hormat terhadap sesama.















