Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif melalui Kegiatan Ice-Breaking
Anne Irma Tobing (Guru Bahasa Perancis dan Bahasa Indonesia)
Sebelum pembelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Perancis di program MYP dan DP dimulai, sering terlihat pemandangan yang menarik—siswa dengan antusias menunggu di depan kelas sambil mengatakan, “Berbaris!” atau “Alignez!” (berbaris). Apa yang membuat momen sederhana ini begitu menarik?
Ice-breaking merupakan kegiatan yang dirancang secara sengaja untuk membantu siswa semakin akrab, merasa lebih rileks, dan nyaman sebelum memasuki materi pembelajaran.
Menurut Fitria (2023), ice-breaking adalah proses pembelajaran yang menggabungkan unsur permainan dan edukasi untuk mengurangi kejenuhan serta meningkatkan semangat belajar siswa.
Dalam praktiknya, ice-breaking menjadi jembatan yang efektif untuk mengajak siswa masuk ke dalam proses pembelajaran. Kegiatannya sangat beragam, seperti salam pembuka, permainan, gerakan, lagu, kata-kata motivasi, kuis, humor ringan, variasi tepuk tangan, hingga tantangan sederhana (Sukmajadi & Simanjuntak, 2021). Beberapa contoh yang sering digunakan antara lain pengenalan kosakata, yell-yell, permainan “Simon Says”, flashcards, dan berbagi cerita singkat.
Ide ini pertama kali saya terapkan beberapa tahun yang lalu dan kini berkembang menjadi salah satu praktik baik di kelas. Tidak hanya siswa MYP, siswa DP juga menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap kegiatan ini.
Jenis ice-breaking yang saya pilih berfokus pada pengayaan kosakata dan konjugasi kata kerja dalam Bahasa Perancis. Saat memasuki kelas, siswa berbaris dan guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan topik pembelajaran hari itu. Siswa yang dapat menjawab dengan benar akan mendapatkan reward, seperti poin positif di ClassDojo. Sementara itu, siswa yang belum dapat menjawab akan termotivasi untuk mencoba kembali di kesempatan berikutnya.
Pada kelas MYP dan DP Bahasa Perancis, pertanyaan yang diberikan lebih bervariasi, mulai dari kosakata hingga konjugasi kata kerja dalam bentuk present, past, dan futur.
Selain menyenangkan dan memberikan reward, kegiatan ini juga memperkaya kosakata siswa. Kosakata tersebut sangat membantu mereka dalam memahami bacaan, serta dalam keterampilan menulis dan berbicara. Proses pembelajaran menjadi lebih lancar karena guru telah menyelaraskan kosakata yang digunakan dalam ice-breaking dengan tujuan pembelajaran dalam lesson plan.
Sebagai fasilitator pembelajaran, guru perlu merancang kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa. Penggunaan media interaktif seperti Wordwall dan Quizzes dapat mengurangi kebosanan, terutama pada jam-jam tertentu. Tidak hanya di awal pembelajaran, kegiatan interaktif juga dapat dilakukan di tengah pelajaran untuk memperkuat pemahaman siswa.
Sebagai kesimpulan, kegiatan ice-breaking dan permainan interaktif terbukti dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran serta memperkaya pengetahuan mereka. Dengan penerapan yang tepat, suasana kelas menjadi lebih hidup, menyenangkan, dan mendorong siswa untuk belajar dengan antusias.




