Mengunjungi Aceh Pasca Banjir
Beberapa siswa kami mendapat kesempatan untuk mengikuti Program Outreach Bantuan Banjir yang diselenggarakan bekerja sama dengan Konsulat Malaysia dan Mercy Malaysia. Mereka mengunjungi Aceh Tamiang yang terdampak Badai Tropis Senyar. Dalam kegiatan ini, para siswa membantu menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada lebih dari 1.000 keluarga. Mereka juga membawa kebahagiaan bagi anak-anak dengan membagikan mainan dan es krim. Kami mengucapkan terima kasih kepada Konsulat Malaysia atas kesempatan berharga yang diberikan kepada para siswa kami. Kami juga meminta setiap siswa untuk merefleksikan pengalaman mereka.
Daniel, siswa kelas 10 (MYP 5):
Selama kunjungan saya ke Aceh, saya menyadari betapa parahnya kondisi di sana: rumah-rumah hancur, mobil tertutup lumpur, truk-truk bertumpuk satu sama lain, dan masih banyak lagi. Hati saya hancur melihat hampir setiap rumah dipenuhi lumpur. Saya mengira semua orang akan sangat terpuruk dan bersedih. Namun, saat kami membagikan mainan dan es krim kepada anak-anak, mereka terlihat sangat antusias dan menyambut kami dengan hangat. Mereka langsung mengerumuni kotak-kotak dan pendingin berisi es krim dan mainan, menunjukkan betapa mereka menginginkan dan membutuhkan momen tersebut. Saya menyadari betapa bersyukurnya saya karena tidak terdampak banjir. Selain itu, saya melihat bahwa kemanusiaan tetap hadir di tengah masa-masa sulit seperti bencana ini; hal itu terasa indah sekaligus menyayat hati. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan sukarelawan ini, dan saya akan terus menghargai setiap momen ketika saya bisa bangun dan menghirup udara dengan bebas.
Zuri, siswa kelas 10 (MYP 5):
Saat saya mengunjungi daerah terdampak bencana di Aceh, hal pertama yang saya sadari adalah betapa besar gangguan yang ditimbulkan banjir terhadap kehidupan sehari-hari. Banyak rumah rusak, tanah masih basah dan berlumpur, dan keluarga-keluarga berusaha sekuat tenaga untuk membersihkan serta menyelamatkan apa yang tersisa. Melihat orang-orang bekerja keras untuk membangun kembali kehidupan mereka membuat saya menyadari betapa beratnya situasi tersebut. Namun, ketika kami mulai membagikan mainan dan makanan, terutama kepada anak-anak kecil, suasana di sekitar pun berubah. Untuk sesaat, anak-anak melupakan kekacauan yang terjadi. Mereka tertawa, tersenyum, dan memeluk mainan itu seolah-olah benda yang sangat berharga. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan di masa sulit, tindakan kecil yang penuh kepedulian dapat memberikan kenyamanan nyata dan mengangkat semangat seseorang.
Pengalaman ini juga mengubah cara saya memahami empati. Saya menyadari bahwa empati bukan hanya tentang memahami rasa sakit orang lain, tetapi juga tentang melakukan sesuatu untuk membantu, meskipun sederhana.
Berada di sana membuat saya melihat bahwa anak muda juga dapat berperan dalam mendukung sesama, baik dengan meluangkan waktu, berbagi kebaikan, atau sekadar hadir. Kunjungan saya ke Aceh mengingatkan saya untuk bersyukur atas keamanan dan stabilitas dalam hidup saya sendiri, serta mengajarkan betapa pentingnya menunjukkan kepedulian kepada komunitas yang masih berjuang untuk pulih.
Dania, siswa kelas 10 (MYP 5):
Selama kunjungan saya ke lokasi bencana di Aceh, saya melihat betapa dalamnya dampak banjir terhadap masyarakat. Banyak rumah dipenuhi lumpur, barang-barang rusak, dan keluarga masih berusaha memulihkan apa pun yang bisa diselamatkan. Meskipun situasinya tampak sangat berat, saat kami mulai membagikan mainan dan makanan—terutama kepada anak-anak—suasana pun berubah. Senyum, antusiasme, dan rasa syukur mereka menunjukkan betapa mereka membutuhkan kenyamanan, harapan, dan rasa normal kembali. Pengalaman ini membantu saya memahami empati dengan lebih mendalam—bahwa terkadang, bahkan gestur kecil pun dapat memberikan dampak yang berarti. Hal ini juga menunjukkan kepada saya bahwa anak muda memiliki kekuatan untuk mendukung orang lain, baik melalui kebaikan, waktu, maupun kesediaan untuk membantu. Mengunjungi Aceh membuat saya semakin sadar akan pentingnya rasa welas asih, dan mengingatkan saya betapa beruntungnya saya dapat hidup dengan aman sementara orang lain masih membangun kembali kehidupan mereka.
Genevieve, siswa kelas 8 (MYP 3):
Saat saya mengunjungi Aceh, hal yang paling mempengaruhi saya adalah cara komunitas setempat berusaha untuk pulih. Saya melihat keluarga-keluarga membersihkan rumah mereka dan mencoba menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan. Ketika kami memberikan mainan dan makanan kepada anak-anak, reaksi mereka membawa kebahagiaan sesaat di tengah masa yang sangat sulit. Rasanya bermakna melihat bagaimana sebuah gestur sederhana dapat mengangkat semangat mereka. Pengalaman ini membantu saya memahami empati sebagai kesediaan untuk memberikan kenyamanan dan dukungan, bahkan ketika situasi tidak dapat sepenuhnya diperbaiki. Hal ini juga menunjukkan bahwa anak muda dapat memberikan dampak positif dengan bersikap peduli, hadir, dan siap membantu.
Ryan, siswa kelas 8 (MYP 3):
Pada hari Rabu, 10 Desember, saya mengunjungi Aceh Tamiang hanya beberapa minggu setelah banjir besar, sebagai bagian dari kegiatan yang diselenggarakan oleh Konsulat Malaysia di Medan. Saat pertama kali memasuki lokasi bencana, kerusakannya terasa tidak nyata; rumah-rumah rusak, sekolah-sekolah terendam sepenuhnya, bahkan mobil-mobil dipenuhi lumpur. Ketika kami mulai membagikan mainan, ekspresi di wajah anak-anak benar-benar menyentuh hati saya. Mereka telah melalui banyak hal, dan melihat mereka tersenyum meninggalkan kesan mendalam di hati saya. Reaksi anak-anak tersebut menunjukkan bahwa memberikan kontribusi atau perbedaan kecil sekalipun dapat mengubah suasana hati seseorang.
Tempat-tempat yang kami kunjungi berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada yang saya lihat di media sosial. Lumpur mulai mengering, membuat proses pembersihan menjadi lebih sulit, dokumen-dokumen penting basah, dan listrik padam. Saya benar-benar merasa iba. Berada di sana juga membuat saya menyadari betapa cepatnya kehidupan seseorang dapat berubah dalam hitungan detik. Ayah saya, Ian Lau, juga berbincang dengan beberapa warga desa. Mereka mengatakan, “Pukul 6 sore, air masih setinggi mata kaki, tetapi pukul 9 malam sudah setinggi pinggang.” Meskipun rumah-rumah tampak hancur total, orang-orang tetap berusaha mengeluarkan lumpur dari rumah mereka.
Hal ini membuat saya lebih menghargai hal-hal yang sering kita anggap remeh, seperti keamanan dan kenyamanan. Karena kami mengunjungi lokasi bencana dua minggu setelah tragedi terjadi, tidak banyak air yang menggenang, tetapi tanah masih tertutup lumpur tebal dan cair. Beberapa warga menggunakan ember untuk membuangnya, sementara yang lain mencoba mencuci barang-barang yang masih bisa diselamatkan.
Secara keseluruhan, kunjungan ke Aceh Tamiang benar-benar membuka mata saya tentang betapa tidak terduganya kehidupan. Seluruh pengalaman ini masih terbayang di benak saya bahkan setelah kami pulang. Melihat bangunan runtuh dan tanah longsor saja sudah membuat saya sangat iba terhadap komunitas tersebut.
Anggia, siswa kelas 10 (MYP 5):
Selama kunjungan saya ke Aceh Tamiang, saya menyadari betapa dalamnya dampak banjir terhadap komunitas setempat. Saya melihat banyak bangunan, termasuk rumah, sekolah, dan kendaraan yang rusak, serta lumpur di mana-mana. Saya juga memperhatikan bahwa banyak keluarga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Banyak yang tidak memiliki akses makanan yang stabil dan tidak dapat merasakan kenyamanan. Meskipun suasana di sana terasa berat dan melelahkan, komunitas setempat tidak terlihat sesedih yang kami bayangkan. Saat kami membagikan mainan dan es krim kepada anak-anak, mereka mengerumuni kotak-kotak tersebut dan terlihat sangat bahagia serta antusias. Pengalaman ini membuat saya menyadari betapa beruntungnya saya karena Medan tidak terdampak banjir separah Aceh. Hal ini juga mengajarkan saya lebih banyak tentang empati dan bagaimana gestur kecil pun dapat memberikan dampak yang berarti bagi orang lain. Saya juga menyadari bahwa anak muda memiliki peran yang kuat dalam membantu sesama.
Kami mungkin tidak memiliki semua sumber daya di dunia, tetapi kami memiliki energi, kepedulian, dan kemampuan untuk menciptakan perubahan bermakna melalui tindakan kebaikan sederhana. Waktu saya di Aceh menunjukkan bahwa bahkan upaya sekecil apa pun dapat meninggalkan dampak yang bertahan lama.
Dana, siswa kelas 9 (MYP 4):
Momen yang paling berdampak secara emosional dan paling menantang bagi saya dalam pengalaman ini adalah saat pulang ke rumah. Sepanjang hari, kami melewati daerah-daerah yang hancur akibat banjir—truk-truk bertumpuk satu sama lain, atap-atap rumah runtuh, dan anak-anak berdiri di pinggir jalan dengan kantong plastik dan wadah, meminta sumbangan. Ketika kami tiba di tujuan pertama, ada sekelompok anak yang kami beri mainan dan es krim. Anak-anak tersebut sangat antusias dan gembira menerima hal-hal itu. Namun, ketika saya pulang larut malam dan berbaring di tempat tidur, saya tidak bisa menahan rasa bersalah. Saya merasa bersalah karena bisa berbaring dengan nyaman setelah menyaksikan kehancuran yang terjadi, tetapi pada saat yang sama saya juga merasa bersyukur. Sungguh mengejutkan bagaimana, meskipun dalam kondisi seperti itu, anak-anak masih bisa bermain. Hal itu memberi saya sedikit rasa lega sekaligus rasa tanggung jawab terhadap mereka.




































